daripinggir.com –Saya bukan pembuat website ahli, tapi pagi itu rasanya cuma ingin duduk, buka laptop, pesan kopi, lalu modal semangat dan sedikit nekat bikin daripinggir.com. Yang terjadi kemudian: kopi lupa diminum, bikin website malah bingung, grup WhatsApp kayak mantan—notif rame, tapi nggak digubris.
Menjelang siang, muncul ratusan notifikasi group. Nama saya disebut-sebut, ditag. Ada yang bilang ‘cari aman’. Ada yang bilang ‘sudah selesai’.
“Buset dah”, dalam hati “Gini amat nasib pengamat gratisan”.
Coba baca komentar-komentar digroup pelan. Ternyata ada kasus: seorang kepala sekolah langsung dinonaktifkan atas perintah bupati, dieksekusi oleh Kadisdik.
Pelanggaran berat? Bukan.
Kriminal? Bukan juga.
Cuma karena idenya agak nyeni: ngajak siswa pakai baju lebaran di hari pertama sekolah. Itu pun diralat sebelum kejadian.
Saya ulang: baru ide, belum eksekusi, langsung dinonaktifkan.
Sontak publik ramai. Saya masih bingung.
Aktivis muda mempertanyakan: apakah ini pelanggaran etik?
Aktivis senior langsung teriak: “Bawa ke PTUN!”
Penjual bakso lebih kritis, “Kenapa LKP yang udah dilarang Disnaker malah dikasih izin operasional sama Disdik, tapi tetap adem ayem?”
Sementara Kepala Sekolah yang cuma ngide pakaian hari pertama? Langsung dieksekusi tanpa ampun.
Satu dinas, dua nasib. Yang nyari cara kreatif untuk semangatin siswa justru disikat. Yang punya rekam jejak bermasalah malah diloloskan.
Lucunya, isu soal Kadisdik ini malah disebut-sebut bakal naik jabatan ke provinsi. Ucapan selamat pernah beredar dilini masa, dibagikan pejabat dan pendukung walau berujung HOAX.
Ketika Pendidikan Jadi Satir
Mungkin ini pelajaran tak tertulis dari dunia pendidikan kita: Bukan siapa yang salah, tapi siapa yang dekat. Bukan apa yang dilanggar, tapi siapa yang melanggar.
Grup WhatsApp mendidih, opini bersliweran. Dari aktivis, pengacara, hingga pegawai leasing—semua bicara. Dan saya? Kopi saya masih dingin. Website belum selesai. Tapi tulisan ini akhirnya jadi.
Penulis: Kang Pinggir

